4/22/2008

Buah Uang dari Pohon yang Ditanam



Suatu hari saya sedang sibuk mengutak-atik cms mambo, ketika teman saya datang mendekati saya. Teman saya itu bertanya, "Sedang apa?"
Tanpa menoleh ke arah dirinya, saya cuma menjawab pendek,"Sedang bikin website."
Teman saya tersenyum sinis.
"Ah, gini hari, elu masih bikin kerjaan? Bikin duit dong,"katanya ketus.
Saya menanggapinya dengan senyum.
Dialog di atas adalah pengalaman yang terjadi pada saya beberapa bulan lalu. Beberapa bulan lamanya memang saya bergelut dengan website, membedah isi perutanya dengan code/script yang tentu saya memeras keringat dan menjenuhkan. Karena jujur saja, saya pemula di bidang ini.


Tiga bulan setelah website saya itu jadi. Teman saya menghampiri lagi. Belum sempat dia
bertanya, saya berkata padanya, bahwa situs saya sudah jadi. Dan saya mendapatkan uang sekian juta dari hasil web design situs tersebut. Dia tak berkomentar apa-apa, selain senyum.
Saya juga bilang padanya, bahwa situs tersebut saya garap hanya dengan modal sebuah buku seharga 50 ribu tentang cara membuat situs yang kemudian saya jual bernilai sekian juta.
Kepada teman saya itu saya hanya membuktikan bahwa untuk mendapatkan uang saya harus bekerja, bahkan dengan keras. Tidak mungkin ada uang terjun bebas dari langit. Uang adalah buah dari pohon yang kita tanam. Kalau manusia di Indonesia berprinsip menciptakan uang tanpa menciptakan kerja lebih dulu, hasilnya adalah orang-orang yang mengais rejeki dengan cara-cara ilegal. Tak heran bila koruptor menjadi tren di negara ini, atau lokasi-lokasi pesugihan dijejali manusia-manusia yang ingin kaya secara instant.

Artikel Terkait Lain



1 komentar:

test on 1:01 AM said...

kapan nih diskusi blog? Main dong ke bojong

Blog Widget by LinkWithin
 

Jurnalisme Blog. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com