3/26/2008

Kerikil Tajam (Restoe Prawironegoro Ibrahim)



SETIAP tangan diangkat, setiap kali pula bayangan wanita cantik itu datang menyerangnya. Menginjak-injak ke segenap sudut sanubarinya. Hampir ia teriak minta tolong, akibat injakan bayang-bayang yang selalu menyakitkan itu.

Serbuan bayangan itu tak ubahnya gelombang laut yang sedang pasang, atau bagaikan tusukan angin yang mengangkut debu, lalu berputar-putar memintal ke dasar sanubari hingga begelimpangan ke kotoran. Inilah sebabnya dia bangun dari pembaringannya di malam nan sepi.

Kadangkala sepinya malam itu terasa amat menyiksa batinnya. Dia tergapai-gapai bagaikan tenggelam dalam lautan nan sepi itu.

"Duh Gusti."

Abdullah sekali lagi mengangkat takbir. Dua tangannya dikembangkan mengepak pada daun telinga. Namun, bayang-bayang itu datang juga menyerbu, akibatnya takbir salatnya tidaklah sempurna.

"Ya, Allah, kuatkanlah hambamu ini," keluh Abdullah menunduk memperhatikan ujung sajadah.

Bayangan itu menyerbu lagi. Terasa bagaikan merobek-robek kulit jantungnya yang sekepal, dia ingin berteriak sekuat tenaga, biar sampai bergema ke segenap pojok sanubarinya, biar kesepian malam itu terganggu.

Namun, dia sadar bahwa teriakan jantungnya yang sekepal itu tak akan mengganggu malam, ibunya tak akan terkejut hingga bangun termangu dan terheran-heran. Adik-adiknya tak akan terbangun juga, seperti anak-anak ayam tersebar diserbu burung elang pemangsa ayam yang begitu jalang.

Ibu tersayangnya akan tetap tertidur nyenyak berlingkar laksana bantal guling terlempar di kasur, adik-adiknya juga nyenyak tidur sampai tumpang tindih sesama saudara. Sesekali terdengar keluhan-keluhan kecil dari mulut mereka karena dinginnya malam.

Abdullah tidak peduli apakah ibunya nyenyak tidur apa tidak, adik-adiknya merasa kedinginan atau tidak. Dia mau mengejar malam nan sepi itu seperti bayang-bayang yang menyerbu sanubariya. Dia mau tunaikan salat sunah tahajud.

Dia tidak mau bayangan wanita cantik itu terus menyiksa dirinya, hatinya akan lapang selapang-lapangnya kalau dapat menunaikan salat sunah tahajud tatkala bayangan itu menyiksa dirinya. Dia akan menambahkan hatinya untuk menantang bayangan yang terus menyiksa itu.

Alangkah hinanya kalau dia tidak dapat melepaskan diri dari bayangan itu. Murid-muridnya di madrasah akan mengutuknya, kutukan para murid menyerbu bertubi-tubi bagaikan kerikil tajam yang tertancap di seluruh mukanya. Dia terbata-bata ingin melepaskan diri dari lemparan kerikil-kerikil tajam itu.

Masaroh, gadis anak tetangga kirinya mengadang di depannya, menahan lontaran batu-batu kerikil nan tajam itu. Gadis sunti baru mekar dada itu tidak peduli lemparan batu kerikil yang bertubi-tubi menyinggahi dadanya.

Cepat-cepat Abdullah menggapai tangan gadis sunti itu, dia menggenggam tangan Masaroh begitu eratnya, tapi sang gadis tidak memedulikannya. Masaroh terus bertahan di situ, Abdullah sendiri tidak dapat bertahan, dia meronta-ronta ingin melepaskan genggamannya pada tangan Masaroh. Namun, tangan gadis sunti baru mekar dada itu tidak mau terlepas lagi. Tangan Masaroh seperti bersatu dalam genggaman Abdullah.

"Duh Gusti ampunilah dosaku," pekik Abdullah meronta-ronta.

Hanya Masaroh yang melihat dia, gadis yang ranum itu seperjalanan dalam bus sewaktu dia meraih pinggang wanita muda berparas cantik. Begitu kukuh dia merangkulnya agar wanita itu tidak terjatuh dari bangku bus.

Alangkah kotornya pakaian yang dikenakan wanita itu atau bisa jadi akan terluka seandainya terjatuh sewaktu sopir bus itu menginjak rem secara mendadak sewaktu menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang dikendarai sepasang sejoli. Wanita muda berambut sebahu itu akan terpelanting di lantai bus, itu sebabnya Abdullah meraih pinggang wanita itu begitu kukuhnya.

"Huh dasar anak muda sok ugal-ugalan di jalan raya."

Kalau anak muda itu mengerti akan sopan santun berlalu-lintas, pasti sang sopir tak akan mengerem secara mendadak, dan sudah barang tentu pula wanita tinggi semampai itu tak akan terdorong ke depan sampai hampir terjatuh. Tentu saja tak akan terjadi peristiwa peraiban pinggang.

Memang sang sopir bus itu kurang hati-hati, terlalu kencang menjalankan busnya, andaikata tidak melaju dengan kecepatan tinggi, pasti semua penumpang tak akan terdorong ke depan sewaktu rem diinjak. Dia juga terdorong hingga beberapa bangku. Sempat juga meraih, merangkul pinggang wanita itu agar tak sama-sama terjatuh.

Inilah yang membuat Abdullah semakin gemetar, bagaimana kalau Masaroh menceritakan pada semua murid-muridnya di madrasah? Bagaimana kalau murid-muridnya itu akan memperguncingkan dirinya? Dan yang paling fatal, bagaimana kalau sampai calon istrinya mempersoalkan dirinya?

"Nanti nanti dulu Masaroh," katanya seperti mohon belas kasihan.

"Saya beritahu."

"Beritahu apa."

"Masalah wanita muda itu."

"Saya cuma ingin menolong."

"Sampai meraih pinggang?"

"Kalau tidak pasti wanita itu terjatuh, dan terluka."

"Bohong."

"Saya takut dia terjatuh."

"Bohong."

"Kau tak percaya padaku?"

Masaroh terkekeh-kekeh sampai daging pipinya mendesak pelupuk mata. Dia mencoba menggoncang-goncangkan tangannya yang menggenggam tangan Masaroh. Tetapi tiada goncangan yang berarti.

Dia mencoba membuka genggaman, tapi jari jemarinya tidak dapat dibuka, lima jarinya seperti melekat pada tangan Masaroh.

"Astaghfirullah allazzim, keluh Abdullah gemetar.

"Kau seperti pemuda pengendara sepeda motor itu."

"Tidak!"

"Atau seperti pengemudi bus yang edan-edanan itu?"

"Tidak juga."

"Kau penyebab bus itu berhenti mendadak."

"Tidak! Sekali lagi aku katakan tidak!"

"Kau yang menyebabkan penumpang terdorong."

"Tidak!"

"Tidak? Kalau begitu kau penyebab penumpang itu terjatuh?"

"Juga tidak."

"Wanita cantik itu hampir terjatuh?"

"Ya."

"Kau meraih pinggangnya yang ramping itu?"

"Ya."

"Hahaha." Masaroh seperti mengejek.

Abdullah mencoba menyembunyikan kemarahannya terhadap Masaroh, dia mencoba mencari kejernihan hatinya yang semula diganggu kekeruhan. Bayang-bayang inilah yang membuat dia menahan kemarahan yang meluap-luap.

Bayangan itu akan muda menyerbu hingga merobek-robek kulit jantungnya kalau kemarahan itu tidak dapat dibendung. Dan, akan lebih jatuh dibanding dengan wanita muda berlesung pipit yang diraih pinggangnya di dalam bus. Siapa yang akan menolong kalau sampai terjatuh seperti wanita berparas cantik itu?

Kalau wanita itu terjatuh di atas lantai bus dan akan berselimut debu serta akan terluka sedikit, paling tidak akan terkulit tangan atau kakinya, bagaimana kalau dia jatuh martabatnya sebagai guru madrasah yang cukup terkenal akan sopan santunnya? Astaghfirullah... Abdullah mengeluh perlahan.

Mengapa hatinya tergoncang sewaktu tangannya meraih pinggang wanita muda berhidung mancung dan berkulit kuning langsat itu?

Mengapa dirinya memuji-muji kecantikan paras wanita tersebut? Ikhlaskah pertolongannya?

Tetapi wanita itu akan terjatuh kalau dirinya terlambat sedetik saja dalam meraih pinggangnya. Ah, betapa cantiknya wanita muda itu, dan pantas menjadi pendampingnya.

"Auzubillah," Abdullah merasa air matanya mulai tergenang di pelupuk mata, tanpa disadari ia tersedu-sedu dalam bayang-bayang yang menyiksa.

Masaroh masih saja terkekeh-kekeh mengejek dia, berkali-kali dia mencoba mengangkat tangan di dekat daun telinga, tapi genggamannya tak terlepas sedikit pun dari tangan Masaroh.

"Lepaskan..," perintah Abdullah mulai menampakkan kemarahannya.

"Mengapa saya harus lepaskan?" sahut Masaroh.

"Bukankah kau yang memegang tanganku, kau yang harus melepaskan," sambung Masaroh sambil memasamkan muka.

Abdullah mencoba melepaskan genggaman, tapi jari-jarinya tidak renggang sebenang pun.

"Astaghfirullah allazzim," Abdullah mengangkat tangannya segagah mungkin, sekuat tenaga yang tersisa. Tak ada Masaroh di kamarnya, tak ada siapa-siapa di sekitarnya. Dia masih tegak memperhatikan ujung sajadahnya, sekali-kali saja ia gemetar sambil mengepal-ngepal tangannya.

Abdullah mengukuhkan hatinya, ia mesti menantang bayangan wanita cantik dan Masaroh yang datang silih berganti. Sekarang dia yakin seyakin-yakinnya bahwa bayangan yang selalu menyerbu itu akan sirna dengan kekuatan yang tersisa. Kini malam terus merembes mendekati dini hari yang masih dalam kesepian nan abadi.

Abdullah mengangkat takbir, kedua tangannya dikembangkan mengepak pada daun telinga, ia menunaikan salat sunah tahajudnya.

Jakarta; Kramat Sentiong-04 November 2007

Artikel Terkait Lain



0 komentar:

Blog Widget by LinkWithin
 

Jurnalisme Blog. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com