6/11/2008

Luka Redup



Malam Tadi, saya mencoba mendegar lagu kesaksian Kantata Takwa. Lagu melodius dengan lirik dalam ini coba kita pasangkan pada music backgroud pada beberap aperistiwa yang melukai batin ibu pertiwi. Bulu kuduk kita niscaya akan meremang seiring hela nafas yang semakin berat demi melihat atmosfer terkini negeri ini. Orang-orang mencaci demi ketidakpuasan. Orang-orang meludah di atas dendam kekecewaan. Para politikus memperdaya rakyatnya dengan kepala menjulang langit. Sementara rakyat semakin terpuruk, terbius dalam ketidakberdayaan. Hidup bersama tak lagi terjaga. Api kemarahan begitu enteng tersulut. Kepalan tinju begitu mudah terkepal untuk kebenaran yang belum tentu benar.

Orang-orang harus dibangunkan! Mari kembali mencari lagi nafkah yang hilang itu. Sesungguhnya anak bangsa ini adalah petani yang kuat, pelaut ulung, pendaki yang gesit, penari yang gemulai, pengukir yang tekun, pemanah yang jitu, peternak yang sabar. Syair-syair spiritual yang berabad-abad tertulis di dalam hati kita harus terus dikumandangkan. Waktu, sinar matahari dan kerjasa keras akan menyembuhkan luka-luka. Cahaya rembulan dan kelembutan akan menjadi titik cahaya penerang di lorong-lorong kegelapan.

Artikel Terkait Lain



0 komentar:

Blog Widget by LinkWithin
 

Jurnalisme Blog. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com